Karyawan Ancam Mogok Produksi Mobil Listrik Karena Upah Tak Sesuai
Mobil listrik

 

Karyawan Ancam Mogok Produksi Mobil Listrik Karena Upah Tak Sesuai. Beberapa karyawan yang telah bekerja ataupun bergabung dalam serikat pekerja Kia Motors di Korea Selatan, sebagian besar berencana hendak mogok bekerja pada bertepatan pada 24 November karena kebijakan upah dan pula kekhawatiran tentang security kerja disaat pembuatan mobil itu hendak memproduksi kendaraan listrik( EV).


Seperti diketahui, mobil listrik ialah alat transportasi terobosan baru yang lagi gencar dibuat ataupun dibesarkan di salah satu negeri semacam di korea. Namun tiap perusaan tentu mempunyai kasus entah itu soal pendapatan, maupun keamanan dalam pekerjaan.


Salah satu pejabat dari serikat pekerja telah berkata, serikat pekerja Kia telah memutuskan buat menangguhkan pekerjaan sejauh 4 hari mulai dari 24-27 November. Permasalahan dari kejadian itu disebabkan pada upah kerja tahunan yang diberikan oleh Kia.


Pejabat berkata apabila Kia lagi menyusun rencana buat memproduksi mannequin EV yang sebanding dengan sedan K7 di salah satu pabrik di pabrik Hwaseong di Korea Selatan mulai Juli tahun depan.


Seorang anggota serikat kerja Kia yang dikutip dari Reuters pada hari Jum'at. Berkata: "Memproduksi suatu mobil listrik tentu memerlukan tenaga kerja lebih sedikit kurang lebih 30% dari pada memproduksi mobil pembakaran dalam, karena itu mereka membutuhkan lebih sedikit suku cadang, yang dapat menimbulkan hilangnya pekerjaan,"


"kami lagi telah mengajukan permohonan kepada manajemen untuk segera tingkatkan keamanan kerja jangka panjang dengan mempunyai jalur penciptaan modul EV di pabrik kami, apabila peralihan ke mobil listrik tidak dapat dihindari." tambah anggota tersebut.


Kia mengatakan pada bulan September nanti, mereka hendak meluncurkan produk terbarunya setidaknya sekitar sebelas kendaraan listrik sampai tahun 2025.


"Sebaian besar pekerja di Kia lagi telah meminta supaya upah kerja di tingkatkan dan lagi insentif kinerja, tetapi permintaan itu belum diterima oleh industri," Ungkap pengurus serikat tersebut.


Sebab permintaan peningkatan pendapatan serta insentif belum diterima, mengakibatkan sebagian besar karyawan memilih untuk berhenti bekerja sementara, atau mogok kerja yang bertepatan pada tanggal 24-27 November, ataupun lebih tepatnya mogok kerja selama four hari.